Rabu, 20 November 2019

SAWARNA PENUH WARNA


                Mentari pagi muncul dari ufuk timur, bersinar memasuki jendela kamarku. Hari ini, hari pertama untukku memulai semester baru. Semester 2 di kelas IX. Di semester ini, aku ingin menutup lembar buku lamaku, dan mulai membuka lembar baru. Dengan kenangan baru, melakukan aktivitas yang lebih baik, lebih bermutu, dan lebih menyenangkan bersama ke-3 sahabatku: David, Cakra, dan Kelin.
            Ah ya, perkenalkan namaku Karin. Karin Aurellia Cantika. Aku mempunyai satu kakak cowok, panggil saja bang Rafi. Bang Rafi adalah kakak terhebat menurutku. Kalau aku ada masalah, orang yang pertama kali menghibur, ya bang Rafi, yang pertama kali memberi solusi, tak lain juga bang Rafi, karena mama sering pulang kerja larut malam. Dan papa, ada pekerjaan di Swedia yang belum selesai, jadi aku dan bang Rafi sering di rumah berdua sendirian.
            Sebelum terlambat ke sekolah, aku segera bergegas mandi dan memakai seragam sekolah. Jarak antara rumahku dan sekolah sangat jauh, untungnya, sekolahku dan sekolah bang Rafi dekat, jadi kami bisa berangkat pagi bersama. Setelah mengambil tas di samping meja belajar, aku segera turun menuju dapur di lantai satu. Setelah makan, aku dan bang Rafi berangkat naik salah satu mobil yang papa tinggalkan.

            “Bang, nanti adek pulangnya agak telat ya, ada janji sama temen-temen adek,”
            “Iya, nanti telfon abang aja, abang juga lagi ada tugas,”
            “Siap. Makasi bang, adek duluan,

            Ketika aku berjalan menuju kelas, tiba-tiba Cakra ada di belakangku dan menepuk pundakku.
            “Hei!” sapa Cakra.     
            “Eh, ngagetin aja,” jawabku dengan agak menoleh ke belakang. Cakra mulai maju, menyamai posisi jalanku.           
         “Kar, nanti jadi nggak? Soalnya kalau nggak jadi, aku pulang duluan nih. Pengen tidur, hahaha,”
            “Tidur mulu kerjaannya.” jawabku garing. “Jadi lah! Ga mau tau, rencana 2 pekan ke depan harus jadi! Mumpung kita dikasi libur habis try out, Cakra,”      
          “Iya iyaa, bercanda doang mah, kalo beneran jadi emang kamu mau kemana? Pantai? Muncak? Apa cuman ke Jogja doang?” Cakra sangat tau jika aku ingin ke Jogja. Tapi, jika tempat lain yang akan menjadi keputusan bersama, jelas aku akan melupakan Jogja untuk sementara.
            “Kalian mau kemana aja mah aku oke aja,” tepat ketika aku selesai mengucapkan kalimat itu, kami sudah sampai di depan kelas. Ah ya, kami sekelas di kelas IX-1, sementara David sekelas dengan Kelin di IX-4. Kami terpisah dua kelas di lantai 3. Tapi itu tidak membuat kami meninggalkan satu sama lain jika istirahat berlangsung ataupun ketika bel pulang sekolah berbunyi.
           Hari pertama sekolah di awal semester dua tidak terlalu banyak peristiwa. Hanya dikumpulkan di hall dan dijelaskan apa saja yang akan dilewati di masa-masa “sibuk” sebelum UNBK berlangsung. Mulai dari try-out beruntun, uji-coba soal UNBK tahun lalu, doa bersama sebelum UN, dan masih banyak lainnya. Kami juga diberitahu tanggal-tanggal merah yang mengharuskan semua siswa/i untuk belajar di rumah masing-masing. Jujur, itu hanya teori saja, kenyataannya tidak sedikit siswa maupun siswi yang menggunakannya untuk refreshing bersama teman atau keluarga dengan alasan agar tidak terlalu stress.
ššš
            Ting… ting… ting… 
            Bel sekolah penanda tibanya pulang berdenting tiga kali. Para siswa berhamburan keluar kelas. Aku dan Cakra menuju IX-4 untuk menjemput David dan Kelin.
            “Kar, aku ke toilet bentar ya. Kalian duluan aja ke kantin, nanti aku nyusul,”         
            “Ok,” jawabku singkat sambil menunggu David dan Kelin keluar dari kelas.
            “Lama banget kelas ini kalo keluar,” batinku kesal. Aku membuka ponselku dan membalas beberapa Direct Massage di Instagram. “Ini Cakra juga kemana gak balik-balik, Allah..,” aku mengerang dalam hati. Kesal sendirian menunguu sekitar 10 menit di depan kelas IX-4. Kepalaku  celingak-celinguk mencari Cakra, tapi batang hidungnya belum juga kutemukan.
            “Cie, nyariin ya,” kata Cakra yang mengagetkanku sambil menyodorkan sebotol minuman dingin. Aku mengernyitkan kening, tidak paham apa yang sedang dilakukan Cakra.
            “Bukannya tadi kamu ke toilet ya? Kok bisa beli minum? Baru tau sekarang toilet ada jasa jualan juga, sejak kapan? Eh tapi thanks ya,” cerocosku melemparkan pertanyaan beruntun pada Cakra.
            “Satu-satu tanyanya, Karin,” jawab Cakra diselingi sedikit tawanya. “Tadi habis ke toilet, kukira kalian sudah di kantin semua, jadi aku ke kantin, eh ternyata kalian nggak ada. Ya udah, daripada ke sini bawa tangan kosong, mending beli minuman deh,” Cakra menjelaskan. Aku hanya mengangguk mengerti.         
            Terdengar gesekan kursi dengan lantai dari dalam kelas, menunjukkan beberapa murid bergerak bangkit dari kursi. Mukaku yang sejak tadi kusut dan mataku yang sayu mulai berbinar dan melayangkan seulas senyuman dari bibirku. Cakra yang melihat gelagat perubahan body gesture-ku hanya tertawa pelan dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
            “Kalian tadi ngapain aja di kelas? Lama banget. Telat keluar kelas 15 menit lho,” tanya Cakra meminta penjelasan. Aku mengangguk-angguk menyetujui apa yang dinyatakan Cakra.
            “Itu tadi ada anak yang bikin onar di kelas, terus diingatin sama Bu Salsa, tapi yang kena satu kelas. Biasa lah,” terang David. “Iyaa, masa Kevin yang panjat pagar sekolah, yang diomelin satu kelas!” lanjut Kelin tidak terima. Ketika jalan menuju kantin, aku mulai membuka obrolan tentang acara hang-out bareng 2 pekan mendatang.
            “Eh, kalian mau kemana 2 pekan lagi?” tanyaku kepada mereka bertiga. “Hmm, mau ke Gunung Bromo, nggak? Lagi mau liat sunrise di Bromo nih!” kata David menggebu-gebu. “Ga mau ah! Masa ke Bromo lagi? Kan udah tahun lalu, yang lain dong,” timpal Kelin−dengan kaki yang dihentakkan dan wajah yang menggeleng−tidak setuju. “Ya udah sih, kalau males jalan di tanjakan bilang aja kali,” gerutu David tidak mau kalah.
            “Udah-udah, mau ke Pantai Anyer nggak? Kalo Bromo kan beda provinsi, jauh. Gimana?” ujar Cakra menengahi pertengkaran Kelin dan David. “Gimana ya… aku mau ke Pantai Sawarna sih, habis liat selebgram foto di situ. Terakhir kali ke sana, airnya bening banget,” pikirku menerawang keadaan Pantai Sawarna di benakku. Mengulang memori 3 tahun yang lalu ketika keluargaku berkunjung ke sana, Pantai Sawarna, Banten.
            Keasyikan berbincang, kami tak sadar bahwa kami telah menginjakkan kaki di lantai kantin sekolah. Akhirnya kami mengambil satu meja dengan 4 kursi yang berada di depan kios Mbak Siti−penjual siomay, berjualan. Kami memesan 3 mangkuk siomay dan 4 jus jeruk.
            “Ke Sawarna ya? Bagus sih emang, 2 tahun lalu aku juga sempat ke sana, seger banget udaranya, bikin tenang. Aku sih setuju banget sama usulan Karin,” aku mengangguk mengiyakan pendapat David tentang Pantai Sawarna. “Iyaa, aku juga waktu kelas 3 ke Pantai Sawarna, dan pasirnya masih putih bersih nggak ada sampah berserakan di situ, asik banget waktu nyari kerang di pinggir pantai. Jadi kangen,” tambah Kelin.
            “Sejauh mata memandang, angin sepoi-sepoi yang tercipta oleh lambaian pohon palem di Sawarna memang menyejukkan. Begitu juga dengan bening airnya yang telah menghipnotisku. 3 tahun lalu, tepat di ulang tahunku ke-12, aku tertawa lebar di pinggir pantai melihat 2 kawanku bercanda saling melemparkan pasir di bawah sinar sore senja,” Cakra mulai melemparkan kata-kata puitisnya tentang pengalamannya di Sawarna. Masih sangat melekat di benakku ketika aku dan Reza, tetanggaku dan Cakra saling melemparkan pasir dan mencripatkan air pantai di bibir pantai. Bosan mengikuti acara barbeque yang diadakan oleh orang-tua Cakra, aku, Cakra, dan Reza berlarian menuju bibir pantai meninggalkan para orang-tua yang sedang berbincang hangat menikmati daging barbeque yang dihidangkan. Reza mulai melemparkan segenggam pasir putih menuju perutku, aku pun balas dendam lantas mengambil 2 genggaman pasir di tangan kanan-kiriku lalu melemparkan genggaman pasir pertama ke badan Reza dan hendak melemparkannya juga ke Cakra. Tapi kuurungkan niatku itu, aku tau Cakra akan gatal-gatal sepanjang hari jika pasir itu mengenai tubuhnya. Ah, menyenangkan.
            Aku saling pandang sebentar dengan Cakra, lalu kami tertawa mengingat kejadian 3 tahun yang lalu. “Ya udah berarti deal ke Pantai Sawarna, ya?” ucapku memastikan. “DEAL!”
ššš
            Hari yang telah ditunggu-tunggu tiba. Kami bersiap semalaman mengemas semua peralatan yang akan digunakan di Pantai Sawarna. Kami akan menginap 3 malam di hotel terdekat. Sebenarnya Pantai Sawarna dan rumah kami tidak terlalu jauh, sekitar 28,5 km. Tapi kami ingin menginap beberapa hari untuk mengisi jadwal liburan kami yang kosong.
            Kami berangkat diantar Om Joseph, papa David. Om Joseph juga mengurus semua biaya penginapan di sana. Setelah kepulangan Om Joseph, kami ber-istirahat selama 3 jam untuk menata baju dan tiduran di kamar hotel.
            Sekitar jam 09.00, kami keluar hotel untuk berjalan-jalan di sekitar pantai. Ketika memasuki area pantai, aku mencium aroma busuk yang tidak mengenakkan, aroma yang menyengat, membuatku tercekat. Bau yang selama ini sama sekali tidak kuinginkan berada di sini. Seketika aku memandangi semua temanku.
        “Hey..” aku kebingungan melihat mata ketiga temanku kosong, menatap nanar, dan melayangkan sebuah senyuman miris. “Ya Kar?” jawab Cakra.
            “Kayak ada yang salah. Apa cuman aku doang yang ngerasa gitu?” tanyaku kepada ketiga temanku. “Nggak, Kar. Aku, kamu, kita semua sadar,” aku tersenyum kecut melihat sampah berserakan dimana-mana, dan setumpuk sampah di pinggir tebing pantai. Aku tertegun.
            Kemana Pantai Sawarnaku yang dulu? Dimana keberadaan Pantai Sawarnaku yang terjaga kebersihannya?
         “Karin, aku nggak tahu usulanmu untuk ke sini adalah usulan yang tepat atau tidak−,” perkataan David belum selesai, nada bicaranya ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi tenggorokannya tercekat, tidak mampu melanjutkan kalimat yang belum usai.
            “Nggak. Usulan Karin sudah tepat, kita saja yang datang tidak tepat. Terlalu cepat pantai ini berubah. Terlalu lama kita memunculkan ide untuk ke sini. Mengapa tidak tahun lalu? Ambil hikmahnya, mungkin takdir membawa kita untuk merubah sesuatu di sini,” timpal Kelin bijaksana disertai senyuman manis penuh rencana. “Sesuatu yang berguna, berguna bagi masyarakat, juga bagi makhluk hidup lainnya” rahangku mengeras, membuat ucapanku terlihat yakin dan tegas. Semua mengangguk, paham betul apa yang akan dilakukan sekarang.
            Tepat jam 09.30 kami sepakat untuk menemui penjaga Pantai Sawarna dan ingin membicarakan beberapa hal yang mungkin sangat disetujui olehnya. Sesampainya di kantor pusat, kami mengetuk pintu dan meminta izin untuk menemui Bapak Penjaga pantai yang mengurus kebersihan Pantai Sawarna. Kami diizinkan masuk dan menemui beliau.
            “Perkenalkan saya Pak Ahmad, yang mengurus  tatanan Pantai Sawarna. Omong-omong, ada urusan apa ya Dek, ingin menemui saya?” Sapa Pak Ahmad terlebih dulu.
            “Begini Pak, saya ingin bertanya tentang perubahan Pantai Sawarna ini, apakah boleh saya dan teman-teman mengetahui latar belakang sampah yang berserakan di sepanjang pinggir pantai?” tanyaku dengan sopan, takut Pak Ahmad tersinggung akan hal itu, karena beliau adalah penanggung jawab tatanan di Pantai Sawarna.       
         “Oh itu, saya paham maksud Adek tentang ‘perubahan Pantai Sawarna’ ini. Memang wisatawan Pantai Sawarna 2 tahun kebelakang sedang naik-naiknya. Tahun lalu jumlah wisatawan sedang berada di puncaknya. Wisatawan asing maupun lokal, semua berbondong-bondong mengunjungi Pantai Sawarna untuk melihat keindahan yang terpancar di dalamnya. Sayangnya, kebanyakan dari mereka tidak mengetahui arti keindahan yang sebenarnya, dimana kebersihan adalah kunci utama keindahan semua tempat wisata. Bukan bentuk pantainya, bukan warna airnya, juga bukan tatanan yang telah diatur sedemikian rupa, melainkan kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan menjadi pendorong utama timbulnya keindahan. Banyak dari mereka yang berkunjung ke sini hanya untuk berfoto ria dengan kawannya atatpun keluarganya dan tidak memperdulikan sampah yang mereka bawa akan berakibat buruk dalam jangka waktu panjang. Pun jangka pendeknya, Pantai Sawarna tidak seindah dulu lagi, dan menjadi pantai tempat pembuangan sampah. Mimpi indah yang telah dibangun sejak lama, kini berubah menjadi mimpi buruk yang nyata,” terang Pak Ahmad dengan mata yang berkaca-kaca.
            “Maaf, Pak, apa tidak bisa ditindak lanjutkan dan diambil jalan keluarnya?” timpal Cakra.
         “Nah itu Dek, masalahnya, bapak sudah memikirkan dari 2 bulan yang lalu, tapi tidak juga bapak temukan jalan keluarnya. Bapak takut jika keadaan ini dibiarkan terus-menerus, Pantai Sawarna akan bertambah rusak, bahkan ditutup hingga waktu yang tidak ditentukan,”
            “Mmm, begini, Pak, bagaimana jika besok pantai ditutup sementara dan seharian penuh kami akan mebersihkan sampah-sampah yang berserakan dan dibantu oleh beberapa warga sekitar yang berbaik hati untuk tidak membiarkan Pantai Sawarna rusak dan tercemar,” David mengeluarkan pendapatnya dan mengajukan dirinya−dan kami bertiga untuk berpartisipasi dalam pemulihan Pantai Sawarna.
            “Begitu ya. Apa tidak merepotkan kalian? Kalian ke sini untuk liburan dan refreshing, bapak tidak enak jika kalian ikut membersihkan Pantai Sawarna yang begitu luasnya meski dibantu oleh beberapa warga. Lagi pula kalian juga masih awal remaja, apa tidak apa-apa? Nanti mau bapak bayar berapa?” tanya Pak Ahmad sedikit ragu.       
            “Ah tidak usah di bayar, Pak. Kami semua di sini tidak mengharap uang sepeser pun. Kami hanya menginginkan Pantai Sawarna ini tetap asri. Kami yang mengajukan diri untuk ikut bantu dalam pemulihan pantai, maka kami siap menanggung resikonya, Pak. Dengan kami membantu Bapak dan melihat Pantai Sawarna kembali, kami sudah cukup bahagia. Usaha kami tidak sia-sia,” Jawab Kelin yakin. Aku, Cakra, dan David mengangguk pasti.           
         “Baiklah kalau begitu, bapak sangat berterima kasih kepada kalian atas apa yang kalian lakukan. Bapak akan dilanda kegelisahan panjang jika kalian tidak hadir menemui bapak pagi ini. Bangsa ini butuh remaja-remaja seperti kalian yang menjunjung tinggi kelestarian alam dan peduli akan lingkungan. Sekali lagi terima kasih banyak,” ucap Pak Ahmad penuh haru. Kami ikut berkaca-kaca mendengar dua kalimat terakhir yang Pak Ahmad ucapkan. Kami pamit meninggalkan pantai dan bersiap untuk menyambut hari esok.
            ššš
            Pukul 05.20 kami siap mengawali membersihkan sampah yang ada di Pantai Sawarna. Pukul 5, hanya kami berempat dan Pak Ahmad yang datang untuk membereskan semua sampah yang ada. Kami mulai mengumpulkan sampah yang berada di bibir pantai lalu dilanjutkan ke pinggir pantai. Pukul 6, beberapa warga datang membantu memulihkan Pantai Sawarna. Aku dan Kelin selesai membersihkan sampah di pinggir pantai lalu melanjutkan di pinggir tebing pantai. Sungguh banyaknya sampah di sini. Jika aku dibolehkan untuk muntah, aku akan muntah setelah mencium baunya yang sangat menyengat dan menusuk hidung itu. Tapi mau tidak mau, kami sudah berkomitmen untuk siap menanggung resiko apapun yang terjadi.
            “Kar, lihat deh,” panggil Kelin. Aku yang sedang memasukkan sampah ke karung goni menoleh ke arah Kelin. “Kenapa?” aku berjalan menuju tempat Kelin. Aku tercengang, takut salah lihat. Aku bertanya pada Kelin. “Itu? Penyu, Kel?” tanyaku ragu. “Iya penyu, kasian badannya kemasukan gelang,” “Bisa belah gitu badannya,” aku tak tega melihat penyu berbadan belah disebabkan oleh ulah manusia yang tidak bertanggung jawab itu. Aku sebagai manusia, merasa bersalah kepada penyu itu, karena penyebab cacatnya penyu itu, adalah spesiesku sendiri. Mataku berkaca-kaca, aku ingin sekali menumpahkan air mata yang sudah terbandung di pelupuk mata. “Kuat, Kar, harus kuat!” semangatku dalam hati.
            Kami menyelesaikan misi pemulihan Pantai Sawarna pukul 5 sore. Kami berempat izin pamit pada Pak Ahmad dan langsung tertidur begitu sampai di kamar hotel. Hari ini melelahkan, tapi yang membuatku bahagia, kami dapat membersihkan Pantai Sawarna dalam satu hari dan dibantu oleh semua warga sekitar Pantai Sawarna. David sejak tadi bangga karena usulannya sangat dihargai seluruh masyarakat.
            Esoknya, kami kembali ke Pantai Sawarna pukul 16.30, paginya kami bersantai di balkon hotel sambil memainkan bilyar dan tenis meja yang disediakan pihak hotel. Saat kami memasuki Pantai Sawarna, banyak sekali orang yang menyapa kami dan tersenyum pada kami. Sejujurya aku merasa malu dengan sedikit rasa bangga. Aku memandang Pantai Sawarna penuh takjub. Pantai ini sangat berbeda dengan Pantai Sawarna 2 hari yang lalu. Pantai ini lebih mirip dengan Pantai Sawarna 3 tahun lalu ketika keluargaku, Cakra, dan Reza berkunjung ke sini. Bahkan lebih bagus yang sekarang karena Pak Ahmad memberi beberapa tatanan baru yang sederhana namun sangat elegan.
            ššš
Di bawah matahari senja
Aku menatap


Diterpa angin
Aku berharap


Pantai Sawarnaku
Tetaplah seperti ini
Tetaplah menjadi,
Pantai Sawarna yang kukenal


Tanpa dipinta
Ku akan menjagamu
Tanpa dibujuk rayu
Ku akan merawatmu


Aku menatap langit
Berharap pada bintang


Wariskan Pantai Sawarnaku
Kepada penurusku
Yang cinta akan alam
Memegang teguh hakikat keindahan


Agar Sawarnaku,
Menjadi Sawarna yang penuh warna
Akan kenangan yang tercipta


            “Ma, lihat anak-anak deh, lucu banget mereka lempar-lemparan kulit kerang,” seseorang berbisik tepat di telingaku ketika aku telah menyelesaikan bait terakhir puisiku dalam lamunanku. “Sana ikut main juga, Cak,” jawabku sedikit tertawa. “Nggak ah, di sini aja nemenin mama 2 anak itu,” Ya, aku dan Cakra sudah menikah sejak 3 tahun yang lalu, setelah aku meluluskan sarjanaku di Universitas Gajah Mada.

            Sawarna,
            Tetaplah seperti ini     
            Tetaplah menjadi       
            Sawarna penuh cerita            
            Sawarna penuh warna           
            Akan kenangan yang tercipta 
            Bersama kawan, sahabat, juga keluarga       


By: Shofwa Aulia

3 komentar:

Kerajaan Kalingga

Kerajaan Kalingga merupakan salah satu kerajaan bercorak Hindu-Buddha yang pernah berkembang di Nusantara sekitar abad ke-6 M hingga abad k...