Mentari pagi muncul dari ufuk timur,
bersinar memasuki jendela kamarku. Hari ini, hari pertama untukku memulai
semester baru. Semester 2 di kelas IX. Di semester ini, aku ingin menutup
lembar buku lamaku, dan mulai membuka lembar baru. Dengan kenangan baru,
melakukan aktivitas yang lebih baik, lebih bermutu, dan lebih menyenangkan
bersama ke-3 sahabatku: David, Cakra, dan Kelin.
Ah
ya, perkenalkan namaku Karin. Karin Aurellia Cantika. Aku mempunyai satu kakak
cowok, panggil saja bang Rafi. Bang Rafi adalah kakak terhebat menurutku. Kalau
aku ada masalah, orang yang pertama kali menghibur, ya bang Rafi, yang pertama
kali memberi solusi, tak lain juga bang Rafi, karena mama sering pulang kerja
larut malam. Dan papa, ada pekerjaan di Swedia yang belum selesai, jadi aku dan
bang Rafi sering di rumah berdua sendirian.
Sebelum
terlambat ke sekolah, aku segera bergegas mandi dan memakai seragam sekolah.
Jarak antara rumahku dan sekolah sangat jauh, untungnya, sekolahku dan sekolah bang
Rafi dekat, jadi kami bisa berangkat pagi bersama. Setelah mengambil tas di
samping meja belajar, aku segera turun menuju dapur di lantai satu. Setelah
makan, aku dan bang Rafi berangkat naik salah satu mobil yang papa tinggalkan.
“Bang, nanti adek pulangnya
agak telat ya, ada janji sama temen-temen adek,”
“Iya, nanti telfon abang aja,
abang juga lagi ada tugas,”
“Siap. Makasi bang, adek
duluan,
”
Ketika
aku berjalan menuju kelas, tiba-tiba Cakra ada di belakangku dan menepuk
pundakku.
“Hei!”
sapa Cakra.
“Eh, ngagetin aja,” jawabku
dengan agak menoleh ke belakang. Cakra mulai maju, menyamai posisi jalanku.
“Kar, nanti jadi nggak?
Soalnya kalau nggak jadi, aku pulang duluan nih. Pengen tidur, hahaha,”
“Tidur mulu kerjaannya.” jawabku
garing. “Jadi lah! Ga mau tau, rencana 2 pekan ke depan harus jadi! Mumpung
kita dikasi libur habis try out, Cakra,”
“Iya iyaa, bercanda doang mah,
kalo beneran jadi emang kamu mau kemana? Pantai? Muncak? Apa cuman ke Jogja
doang?” Cakra sangat tau jika aku ingin ke Jogja. Tapi, jika tempat lain yang
akan menjadi keputusan bersama, jelas aku akan melupakan Jogja untuk sementara.
“Kalian mau kemana aja mah aku
oke aja,” tepat ketika aku selesai mengucapkan kalimat itu, kami sudah sampai
di depan kelas. Ah ya, kami sekelas di kelas IX-1, sementara David sekelas
dengan Kelin di IX-4. Kami terpisah dua kelas di lantai 3. Tapi itu tidak
membuat kami meninggalkan satu sama lain jika istirahat berlangsung ataupun ketika
bel pulang sekolah berbunyi.
Hari
pertama sekolah di awal semester dua tidak terlalu banyak peristiwa. Hanya
dikumpulkan di hall dan dijelaskan apa saja yang akan dilewati di
masa-masa “sibuk” sebelum UNBK berlangsung. Mulai dari try-out
beruntun, uji-coba soal UNBK tahun lalu, doa bersama sebelum UN, dan masih
banyak lainnya. Kami juga diberitahu tanggal-tanggal merah yang mengharuskan
semua siswa/i untuk belajar di rumah masing-masing. Jujur, itu hanya teori
saja, kenyataannya tidak sedikit siswa maupun siswi yang menggunakannya untuk refreshing
bersama teman atau keluarga dengan alasan agar tidak terlalu stress.
Ting…
ting… ting…
Bel sekolah penanda tibanya
pulang berdenting tiga kali. Para siswa berhamburan keluar kelas. Aku dan Cakra
menuju IX-4 untuk menjemput David dan Kelin.
“Kar, aku ke toilet bentar ya.
Kalian duluan aja ke kantin, nanti aku nyusul,”
“Ok,” jawabku singkat sambil menunggu
David dan Kelin keluar dari kelas.
“Lama
banget kelas ini kalo keluar,” batinku kesal. Aku membuka ponselku dan
membalas beberapa Direct Massage di Instagram. “Ini Cakra juga kemana
gak balik-balik, Allah..,” aku mengerang dalam
hati. Kesal sendirian menunguu sekitar 10 menit di depan kelas IX-4.
Kepalaku celingak-celinguk mencari
Cakra, tapi batang hidungnya belum juga kutemukan.
“Cie,
nyariin ya,” kata Cakra yang mengagetkanku sambil menyodorkan sebotol minuman
dingin. Aku mengernyitkan kening, tidak paham apa
yang sedang dilakukan Cakra.
“Bukannya
tadi kamu ke toilet ya? Kok bisa beli minum? Baru tau sekarang toilet ada jasa
jualan juga, sejak kapan? Eh tapi thanks ya,” cerocosku melemparkan pertanyaan
beruntun pada Cakra.
“Satu-satu
tanyanya, Karin,” jawab Cakra diselingi sedikit tawanya. “Tadi habis ke toilet,
kukira kalian sudah di kantin semua, jadi aku ke kantin, eh ternyata kalian nggak
ada. Ya udah, daripada ke sini bawa tangan kosong, mending beli minuman deh,”
Cakra menjelaskan. Aku hanya mengangguk mengerti.
Terdengar
gesekan kursi dengan lantai dari dalam kelas, menunjukkan beberapa murid
bergerak bangkit dari kursi. Mukaku yang sejak
tadi kusut dan mataku
yang sayu mulai berbinar dan melayangkan seulas senyuman dari bibirku. Cakra yang melihat
gelagat perubahan body gesture-ku hanya tertawa pelan dan menggeleng-gelengkan
kepalanya.
“Kalian
tadi ngapain aja di kelas? Lama banget. Telat keluar kelas 15 menit lho,” tanya
Cakra meminta penjelasan. Aku mengangguk-angguk menyetujui apa yang dinyatakan
Cakra.
“Itu
tadi ada anak yang bikin onar di kelas, terus diingatin sama Bu Salsa, tapi
yang kena satu kelas. Biasa lah,” terang David. “Iyaa, masa Kevin yang panjat
pagar sekolah, yang diomelin satu kelas!” lanjut Kelin tidak terima. Ketika
jalan menuju kantin, aku mulai membuka obrolan tentang acara hang-out
bareng 2 pekan mendatang.
“Eh,
kalian mau kemana 2 pekan lagi?” tanyaku kepada mereka bertiga. “Hmm, mau ke
Gunung Bromo, nggak? Lagi mau liat sunrise di Bromo nih!” kata David menggebu-gebu. “Ga mau ah! Masa ke Bromo lagi? Kan
udah tahun lalu, yang lain dong,” timpal Kelin−dengan kaki
yang dihentakkan dan wajah yang menggeleng−tidak setuju. “Ya udah sih, kalau
males jalan di tanjakan bilang aja kali,” gerutu David tidak mau kalah.
“Udah-udah,
mau ke Pantai Anyer nggak? Kalo Bromo kan beda provinsi, jauh. Gimana?” ujar
Cakra menengahi pertengkaran Kelin dan David. “Gimana ya… aku mau ke Pantai
Sawarna sih, habis liat selebgram foto di situ. Terakhir kali ke sana, airnya
bening banget,” pikirku menerawang keadaan Pantai Sawarna di benakku. Mengulang
memori 3 tahun yang lalu ketika keluargaku berkunjung ke sana, Pantai Sawarna,
Banten.
Keasyikan
berbincang, kami tak sadar bahwa kami telah menginjakkan kaki di lantai kantin
sekolah. Akhirnya kami mengambil satu meja dengan 4 kursi yang berada di depan kios
Mbak Siti−penjual siomay, berjualan.
Kami memesan 3 mangkuk siomay dan 4 jus jeruk.
“Ke Sawarna ya? Bagus
sih emang, 2 tahun lalu aku juga sempat ke sana, seger banget udaranya, bikin
tenang. Aku sih setuju banget sama usulan Karin,” aku mengangguk mengiyakan
pendapat David tentang Pantai Sawarna. “Iyaa, aku juga waktu kelas 3 ke Pantai
Sawarna, dan pasirnya masih putih bersih nggak ada sampah berserakan di situ,
asik banget waktu nyari kerang di pinggir pantai. Jadi kangen,” tambah Kelin.
“Sejauh mata memandang, angin sepoi-sepoi yang tercipta oleh
lambaian pohon palem di Sawarna memang menyejukkan. Begitu juga dengan bening
airnya yang telah menghipnotisku. 3 tahun lalu,
tepat di ulang tahunku ke-12, aku tertawa lebar di pinggir pantai melihat 2
kawanku bercanda saling melemparkan pasir di bawah sinar sore senja,” Cakra
mulai melemparkan kata-kata puitisnya tentang pengalamannya di Sawarna. Masih
sangat melekat di benakku ketika aku dan Reza, tetanggaku dan Cakra saling
melemparkan pasir dan mencripatkan air pantai di bibir pantai. Bosan mengikuti
acara barbeque yang diadakan oleh orang-tua Cakra, aku, Cakra, dan Reza
berlarian menuju bibir pantai meninggalkan para orang-tua yang sedang berbincang
hangat menikmati daging barbeque yang dihidangkan. Reza mulai
melemparkan segenggam pasir putih menuju perutku, aku pun balas dendam lantas
mengambil 2 genggaman pasir di tangan kanan-kiriku lalu melemparkan genggaman
pasir pertama ke badan Reza dan hendak melemparkannya juga ke Cakra. Tapi kuurungkan
niatku itu, aku tau Cakra akan gatal-gatal sepanjang hari jika pasir itu mengenai
tubuhnya. Ah, menyenangkan.
Aku saling pandang
sebentar dengan Cakra, lalu kami tertawa mengingat kejadian 3 tahun yang lalu. “Ya
udah berarti deal ke Pantai Sawarna, ya?” ucapku memastikan. “DEAL!”
Hari yang telah
ditunggu-tunggu tiba. Kami bersiap semalaman mengemas semua peralatan yang akan
digunakan di Pantai Sawarna. Kami akan menginap 3 malam di hotel terdekat. Sebenarnya
Pantai Sawarna dan rumah kami tidak terlalu jauh, sekitar 28,5 km. Tapi kami ingin
menginap beberapa hari untuk mengisi jadwal liburan kami yang kosong.
Kami berangkat diantar
Om Joseph, papa David. Om Joseph juga mengurus semua biaya penginapan di sana. Setelah
kepulangan Om Joseph, kami ber-istirahat selama 3 jam untuk menata baju dan tiduran
di kamar hotel.
Sekitar jam 09.00, kami
keluar hotel untuk berjalan-jalan di sekitar pantai. Ketika memasuki area
pantai, aku mencium aroma busuk yang tidak mengenakkan, aroma yang menyengat, membuatku tercekat. Bau yang selama ini sama sekali
tidak kuinginkan berada di sini. Seketika aku memandangi semua temanku.
“Hey..” aku kebingungan
melihat mata ketiga temanku kosong, menatap nanar,
dan melayangkan sebuah senyuman miris. “Ya Kar?”
jawab Cakra.
“Kayak ada yang salah.
Apa cuman aku doang yang ngerasa gitu?” tanyaku kepada ketiga temanku. “Nggak,
Kar. Aku, kamu, kita semua sadar,” aku tersenyum kecut
melihat sampah berserakan dimana-mana, dan setumpuk sampah di pinggir tebing
pantai. Aku tertegun.
Kemana Pantai Sawarnaku yang
dulu? Dimana keberadaan Pantai Sawarnaku yang terjaga kebersihannya?
“Karin, aku nggak tahu usulanmu untuk ke sini
adalah usulan yang tepat atau tidak−,” perkataan David belum selesai, nada
bicaranya ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi tenggorokannya
tercekat, tidak mampu melanjutkan kalimat yang belum usai.
“Nggak. Usulan Karin
sudah tepat, kita saja yang datang tidak tepat. Terlalu cepat pantai ini
berubah. Terlalu lama kita memunculkan ide untuk ke sini. Mengapa tidak tahun
lalu? Ambil hikmahnya, mungkin takdir membawa kita untuk merubah sesuatu di
sini,” timpal Kelin bijaksana disertai senyuman manis penuh
rencana. “Sesuatu yang berguna, berguna bagi masyarakat, juga bagi makhluk
hidup lainnya” rahangku mengeras, membuat
ucapanku terlihat yakin dan tegas. Semua mengangguk, paham betul apa yang akan
dilakukan sekarang.
Tepat jam 09.30 kami
sepakat untuk menemui penjaga Pantai Sawarna dan ingin membicarakan beberapa
hal yang mungkin sangat disetujui olehnya. Sesampainya di kantor pusat, kami
mengetuk pintu dan meminta izin untuk menemui Bapak Penjaga pantai yang
mengurus kebersihan Pantai Sawarna. Kami diizinkan masuk dan menemui beliau.
“Perkenalkan saya Pak
Ahmad, yang mengurus tatanan
Pantai Sawarna. Omong-omong, ada urusan apa ya Dek, ingin menemui saya?” Sapa
Pak Ahmad terlebih dulu.
“Begini Pak, saya ingin
bertanya tentang perubahan Pantai Sawarna ini, apakah boleh saya dan
teman-teman mengetahui latar belakang sampah yang berserakan di sepanjang
pinggir pantai?” tanyaku dengan sopan, takut Pak Ahmad tersinggung akan hal
itu, karena beliau adalah penanggung jawab tatanan di Pantai Sawarna.
“Oh itu, saya paham maksud Adek
tentang ‘perubahan Pantai Sawarna’ ini. Memang wisatawan Pantai Sawarna 2 tahun
kebelakang sedang naik-naiknya. Tahun lalu jumlah wisatawan sedang berada di
puncaknya. Wisatawan asing maupun lokal, semua berbondong-bondong mengunjungi
Pantai Sawarna untuk melihat keindahan yang terpancar di
dalamnya. Sayangnya, kebanyakan dari mereka tidak mengetahui arti keindahan yang
sebenarnya, dimana kebersihan adalah kunci utama keindahan semua tempat wisata.
Bukan bentuk pantainya, bukan warna airnya, juga bukan tatanan yang telah
diatur sedemikian rupa, melainkan kesadaran untuk tidak membuang sampah
sembarangan menjadi pendorong utama timbulnya keindahan. Banyak dari mereka
yang berkunjung ke sini hanya untuk berfoto ria dengan kawannya atatpun keluarganya
dan tidak memperdulikan sampah yang mereka bawa akan berakibat buruk dalam
jangka waktu panjang. Pun jangka pendeknya, Pantai Sawarna tidak seindah dulu
lagi, dan menjadi pantai tempat pembuangan sampah. Mimpi indah yang telah
dibangun sejak lama, kini berubah menjadi mimpi buruk yang nyata,” terang Pak
Ahmad dengan mata yang berkaca-kaca.
“Maaf, Pak, apa tidak
bisa ditindak lanjutkan dan diambil jalan keluarnya?” timpal Cakra.
“Nah itu Dek, masalahnya,
bapak sudah memikirkan dari 2 bulan yang lalu, tapi tidak juga bapak temukan
jalan keluarnya. Bapak takut jika keadaan ini dibiarkan terus-menerus, Pantai
Sawarna akan bertambah rusak, bahkan ditutup hingga waktu yang tidak
ditentukan,”
“Mmm, begini, Pak,
bagaimana jika besok pantai ditutup sementara dan seharian penuh kami akan
mebersihkan sampah-sampah yang berserakan dan dibantu oleh beberapa warga
sekitar yang berbaik hati untuk tidak membiarkan Pantai Sawarna rusak dan
tercemar,” David mengeluarkan pendapatnya dan mengajukan dirinya−dan kami
bertiga untuk berpartisipasi dalam pemulihan Pantai Sawarna.
“Begitu ya. Apa tidak
merepotkan kalian? Kalian ke sini untuk liburan dan refreshing, bapak
tidak enak jika kalian ikut membersihkan Pantai Sawarna yang begitu luasnya
meski dibantu oleh beberapa warga. Lagi pula kalian juga masih awal remaja, apa
tidak apa-apa? Nanti mau bapak bayar berapa?” tanya Pak Ahmad sedikit ragu.
“Ah tidak usah di bayar, Pak.
Kami semua di sini tidak mengharap uang sepeser pun. Kami hanya menginginkan
Pantai Sawarna ini tetap asri. Kami yang mengajukan diri untuk ikut bantu dalam
pemulihan pantai, maka kami siap menanggung resikonya, Pak. Dengan kami
membantu Bapak dan melihat Pantai Sawarna kembali, kami sudah cukup bahagia.
Usaha kami tidak sia-sia,” Jawab Kelin yakin. Aku, Cakra, dan David mengangguk pasti.
“Baiklah kalau begitu, bapak
sangat berterima kasih kepada kalian atas apa yang kalian lakukan. Bapak akan dilanda
kegelisahan panjang jika kalian tidak hadir menemui bapak pagi ini. Bangsa ini
butuh remaja-remaja seperti kalian yang menjunjung tinggi kelestarian alam dan
peduli akan lingkungan. Sekali lagi terima kasih banyak,” ucap Pak Ahmad penuh haru. Kami ikut berkaca-kaca
mendengar dua kalimat terakhir yang Pak Ahmad ucapkan. Kami pamit
meninggalkan pantai dan bersiap untuk menyambut hari esok.
Pukul 05.20 kami siap
mengawali membersihkan sampah yang ada di Pantai Sawarna. Pukul 5, hanya kami
berempat dan Pak Ahmad yang datang untuk membereskan semua sampah yang ada.
Kami mulai mengumpulkan sampah yang berada di bibir pantai lalu dilanjutkan ke pinggir
pantai. Pukul 6, beberapa warga datang membantu memulihkan Pantai Sawarna. Aku
dan Kelin selesai membersihkan sampah di pinggir pantai lalu melanjutkan di
pinggir tebing pantai. Sungguh banyaknya sampah di sini. Jika aku dibolehkan
untuk muntah, aku akan muntah setelah mencium baunya yang sangat menyengat dan
menusuk hidung itu. Tapi mau tidak mau, kami sudah berkomitmen untuk siap
menanggung resiko apapun yang terjadi.
“Kar, lihat deh,”
panggil Kelin. Aku yang sedang memasukkan sampah ke karung goni menoleh ke arah
Kelin. “Kenapa?” aku berjalan menuju tempat Kelin. Aku tercengang,
takut salah lihat. Aku bertanya pada Kelin. “Itu? Penyu, Kel?” tanyaku ragu.
“Iya penyu, kasian badannya kemasukan gelang,” “Bisa belah gitu badannya,” aku
tak tega melihat penyu berbadan belah disebabkan oleh ulah manusia yang tidak
bertanggung jawab itu. Aku sebagai manusia, merasa bersalah kepada penyu itu,
karena penyebab cacatnya penyu itu, adalah spesiesku sendiri. Mataku berkaca-kaca, aku ingin sekali menumpahkan air mata yang sudah terbandung di pelupuk mata.
“Kuat, Kar, harus kuat!” semangatku dalam hati.
Kami menyelesaikan misi
pemulihan Pantai Sawarna pukul 5 sore. Kami berempat izin pamit pada Pak
Ahmad dan langsung tertidur begitu sampai di kamar hotel. Hari ini melelahkan,
tapi yang membuatku bahagia, kami dapat membersihkan Pantai Sawarna dalam satu
hari dan dibantu oleh semua warga sekitar Pantai Sawarna. David sejak tadi
bangga karena usulannya sangat dihargai seluruh masyarakat.
Esoknya, kami kembali
ke Pantai Sawarna pukul 16.30, paginya kami bersantai di balkon hotel sambil
memainkan bilyar dan tenis meja yang disediakan pihak hotel. Saat kami memasuki
Pantai Sawarna, banyak sekali orang yang menyapa kami dan tersenyum pada kami.
Sejujurya aku merasa malu dengan sedikit rasa bangga. Aku memandang Pantai
Sawarna penuh takjub. Pantai ini sangat berbeda
dengan Pantai Sawarna 2 hari yang lalu. Pantai ini lebih mirip dengan Pantai
Sawarna 3 tahun lalu ketika keluargaku, Cakra, dan Reza berkunjung ke sini. Bahkan
lebih bagus yang sekarang karena Pak Ahmad memberi beberapa tatanan baru yang
sederhana namun sangat elegan.
Di bawah matahari senja
Aku menatap
Diterpa angin
Aku berharap
Pantai Sawarnaku
Tetaplah seperti ini
Tetaplah menjadi,
Pantai Sawarna yang kukenal
Tanpa dipinta
Ku akan menjagamu
Tanpa dibujuk rayu
Ku akan merawatmu
Aku menatap langit
Berharap pada bintang
Wariskan Pantai
Sawarnaku
Kepada penurusku
Yang cinta akan alam
Memegang teguh hakikat keindahan
Agar Sawarnaku,
Menjadi Sawarna yang penuh warna
Akan kenangan yang tercipta
“Ma, lihat anak-anak
deh, lucu banget mereka lempar-lemparan kulit kerang,” seseorang berbisik tepat
di telingaku ketika aku telah menyelesaikan bait terakhir puisiku dalam
lamunanku. “Sana ikut main juga, Cak,” jawabku sedikit tertawa. “Nggak ah, di
sini aja nemenin mama 2 anak itu,” Ya, aku dan Cakra sudah menikah sejak 3
tahun yang lalu, setelah aku meluluskan sarjanaku di Universitas Gajah Mada.
Sawarna,
Tetaplah seperti ini
Tetaplah menjadi
Sawarna penuh cerita
Sawarna penuh warna
Akan kenangan yang tercipta
Bersama kawan, sahabat, juga
keluarga
By: Shofwa Aulia